BANDAR LAMPUNG — Ruang kebugaran yang biasanya dipenuhi oleh dentingan beban dan deru mesin treadmill berubah menjadi panggung kritik sosial yang artistik. Mahasiswa Program Studi (Prodi) Pendidikan Tari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lampung (Unila) sukses menggelar pertunjukan site-specific bertajuk Koreografi Lingkungan “P R O . S E S” pada Rabu, 24 Juni 2026.
Pementasan yang berlangsung pukul 15.30 WIB ini dipusatkan langsung di Gym FKIP Universitas Lampung. Agenda ini merupakan bagian dari rangkaian Ujian Akhir Semester (UAS) untuk mata kuliah Koreografi Non-Tradisi. Menariknya, pementasan ini dibuka untuk umum secara gratis (HTM Free), yang berhasil menarik perhatian dan antusiasme tinggi dari para mahasiswa dan pengunjung gym.



Karya berjudul “P R O . S E S” ini secara tajam menangkap fenomena sosial yang karib dijumpai di lingkungan gym modern. Fokus utama dari koreografi ini adalah memotret pergeseran makna olahraga di era digital. Aktivitas fisik yang sejatinya berfungsi untuk menjaga kesehatan dan kebugaran, kini kerap bergeser fungsi menjadi panggung untuk membangun citra (image branding) dan berburu validasi di media sosial.
Melalui eksplorasi gerak tubuh kontemporer yang dinamis, para penari dengan apik memanifestasikan dualitas manusia yang kerap ditemui di tempat kebugaran. Koreografi ini menggambarkan dua tipe individu yang kontras:
- Tipe Disiplin: Menggambarkan mereka yang berolahraga secara sadar, konsisten, dan berfokus penuh pada esensi kesehatan serta pembentukan fisik.
- Tipe FOMO (Fear of Missing Out): Menggambarkan kelompok yang datang ke gym hanya demi mengikuti tren, di mana eksistensi lewat kamera ponsel dan pencarian validasi digital jauh lebih diprioritaskan ketimbang keringat dan esensi olahraga itu sendiri.
Pemilihan lokasi di dalam gym kampus mempertegas penerapan konsep koreografi lingkungan. Mahasiswa tidak hanya menari, tetapi juga merespons alat-alat olahraga, tata ruang, hingga atmosfer domestik gym menjadi bagian dari elemen pertunjukan mereka.
Mata kuliah Koreografi Non-Tradisi ini berhasil menjadi wadah bagi mahasiswa Pendidikan Tari Unila untuk membuktikan bahwa seni tari tidak selalu berjarak dari realitas masyarakat. Melalui karya “P R O . S E S”, mereka berhasil menyuguhkan tontonan yang menghibur, sekaligus menjadi refleksi kritis bagi generasi digital agar lebih bijak dalam memaknai esensi sebuah proses, baik dalam berolahraga maupun dalam kehidupan sehari-hari.



