Category Archives: Pendidikan

FKIP Resmikan Gedung Pascasarjana

Rektor Universitas Lampung Menandatangani Prasasti Gedung Pascasarjana FKIP

Rektor Universitas Lampung Menandatangani Prasasti Gedung Pascasarjana FKIP

(Eduspotnews) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung (FKIP Unila) melalui Rektor Unila Prof. Dr. Ir. Sugeng P. Harianto, M.S., didampingi Dekan FKIP Dr. Bujang Rahman, M.Si., meresmikan gedung pascasarjana baru di lingkungan kampus setempat, Senin (6/4) lalu.

Selain gedung pascasarjana, FKIP juga meresmikan penggunaan kembali gedung Aula K FKIP sebagai salah satu sarana prasarana perkuliahan beserta pendirian teater terbuka di Kampus A FKIP Unila yang berada di Jalan Panglima Polim.

Acara peresmian dan penandatanganan prasasti juga dihadiri para dekan, wakil rektor I, III, dan IV, direktur pascasarjana, kepala biro, ketua lembaga, dosen purnabakti di lingkungan Unila, serta perwakilan dinas pariwisata.

Dalam sambutannya Bujang Rahman mengatakan, gedung pascasarjana didirikan sebanyak tiga lantai. Penyelesaian secara fisik gedung pascasarjana FKIP Unila yang sudah ditinjau oleh rektor ini merupakan salah satu program kerja dekan terdahulu (Prof. Sudjarwo, red).

Rencananya, kata Bujang, gedung baru tersebut digunakan untuk menunjang seluruh kegiatan akademik program pascasarjana sehingga gedung yang lama bisa dimanfaatkan untuk program studi pascasarjana lainnya. Selain digunakan sebagai laboratorium, gedung akan dialokasikan untuk program studi matematika dan ilmu pengetahuan alam FKIP Unila.

Program fisik selanjutnya yakni pembangunan teater terbuka di kampus A FKIP Unila dan penggunaan kembali gedung Aula K yang telah selesai direhab total dari semula satu lantai menjadi dua lantai. Menurut Bujang, di lantai satu akan digunakan untuk laboratoriummicroteaching.

“Saya berharap dengan adanya fasilitas baru ini kegiatan belajar mengajar dapat lebih baik lagi dan kepada semua pihak agar dapat sama-sama menjaga dan merawat,” imbuhnya.

Rektor Unila dalam sambutannya menambahkan, yang membanggakan dari Fakultas Keguruan  dan Ilmu Pendidikan Unila salah satunya adalah input yang baik. “Kalau inputnya sudah bagus maka ouputnya pun harus bagus. Ini adalah tantangan ke depan,” pungkasnya. (http://www.unila.ac.id)

Gedung Pascasarjana FKIP Unila Tampak Depan

Gedung Pascasarjana FKIP Unila Tampak Depan

Kegigihan Mahasiswa FKIP Unila dalam Mengikuti Lomba PKM Kemenristek-Dikti

121

Latih Penyandang Tunanetra Melakukan Tari Saman

Maria Desti Rita, Ferdiansyah, dan Monica Prisilia A.Y. merupakan mahasiswa Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung (FKIP Unila). Mereka tercatat sebagai salah satu peserta lomba Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Tema yang diajukan mereka dalam mengikuti perlombaan tersebut adalah Melatih Penyandang Tunanetra Melakukan Tari Saman.

Laporan Rizky Pancha24nov, BANDARLAMPUNG

MINGGU (15/3) sekitar pukul 11.00 WIB, Radar Lampung menyambangi UPT Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Penyandang Cacat Tunanetra yang berada di Jl. Pramuka No. 48, Kemiling, Bandarlampung.

Saat memasuki salah satu ruangan yang ada di kantor tersebut, Radar diterima Maria Desti Rita, Ferdiansyah, dan Monica Prisilia A.Y.

Wartawan koran ini sebelumnya memang telah berjanjian untuk bertemu dengan ketiganya. Ya, mereka adalah mahasiswa yang terdaftar dalam lomba PKM yang diadakan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek-Dikti) pada Juni mendatang.

PKM adalah ajang kompetisi mahasiswa nasional yag tidak hanya berorientasi pada kompetisi. Tujuannya jauh lebih besar dari itu, yakni menanamkan nilai Tri Dharma Perguruan Tinggi secara menyeluruh dalam pelaksanaannya. Ajang ini diikuti hampir seluruh perguruan tinggi baik negeri maupun swasta di Indonesia.

Tema yang mereka usung dalam PKM adalah melatih tari penyandang tunanetra. Menurut mereka, ide tersebut awalnya dianggap sebagai ide gila oleh teman-temannya. Namun, mereka yakin para tunanetra bisa melakukannya.

Maria Desti Rita mengatakan, munculnya ide tersebut berawal dari kemirisan mereka melihat daerah sekitar pemukimannya yakni di Kecamatan Kemiling banyak ditempati penyandang tunanetra. Sementara, pekerjaannya hanya sebagai tukang pijat.

Kemudian mereka ditemani Hermi Yanzi selaku pembina memberanikan diri mendaftarkan ide tersebut dalam perlombaan yang digelar Kemenristekdikti.

”Kami meng-upload proposal ke situs online Kemenristekdikti di simlitabmas.dikti.go.id. Tak disangka, program yang diajukan tersebut diterima dan pada 8 Februari kami memulai program tersebut,” ucapnya.

Menurutnya, dalam perlombaan PKM ada 5 bidang yang akan dilombakan, yakni pengabdian masyarakat, kewirausahaan, karya cipta, teknologi, dan penelitian.

”Dari Unila ada sekitar 89 tim dari berbagai fakultas dan prodi yang ikut. kami adalah salah satunya. Nanti bagi yang menang, hasil karya penelitian dan pengabdian tersebut akan dilombakan lagi diajang PIMNAS (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional, Red),” jelasnya.

Dia memaparkan, dalam menjalankan tema itu, mereka mengajak kerjasama UPT Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Penyandang Cacat Tunanetra dan sejak 13 Februari mereka sudah melatih penyandang tunanetra yang ada di UPT yang berada dibawah naungan Dinas Sosial Pemprov Lampung itu.

Maria memaparkan, mereka mengajarkan Tari Saman yang merupakan tarian asal Nangroe Aceh Darussalam karena terkenal dengan kekompakannya.

Awalnya mereka melatih satu kali dalam seminggu, kemudian jadwal tersebut dipadatkan menjadi dua kali dalam seminggu yaitu setiap Jumat dan Minggu.

Ada 14 penyandang tunanetra yang berlatih Tari Saman, rinciannya 10 orang wanita serta 4 lelaki. Dia mengaku awalnya sangat sulit mengajar tunanetra namun dengan semangat dan tekad yang kuat, akhirnya penyandang tunanetra sudah bisa melakukan tarian tersebut.

”Medianya cuma suara mas sambil memegang tangan mereka, nama-nama gerakannya kami ganti pakai suara dan hitungan. Contoh kalau gerakan tutup, kami ganti pakai kata 1. Nah, untuk gerakan buka kami ganti dengan angka 2, ini untuk mempermudah,” jelasnya.

Monica menambahkan, tempo dari gerakan Tari Saman sama sekali tidak diperlambat, hanya saja musik yang mengiring tarian mereka diganti dengan nyanyian yang dinyanyikan laki-laki nyanyian tersebut juga berfungsi sebagai aba-aba gerakan agar tetap sama dan kompak.

”Sejauh ini kami sudah lima kali berlatih, dan saya lihat perkembangan dari mereka sangat signifikan gerakannya mereka hafal mereka sangat serius belajar Tari Saman,” katanya.

Maria, Ferdiansyah dan Monica mengaku optimis bisa memenangkan perlombaan PKM. Sebab, sejauh ini belum ada tunanetra yang bisa menari Saman. Mereka berharap, dengan melatih tunanetra menari bisa membantu membuka profesi baru bagi mereka. (p5/c1/whk)

Sumber http://www.radarlampung.co.id/

Lihat Lintasan Menuju Sekolah Rusak, Yuk Lapor ke sahabat.kemdikbud.go.id

Jakarta, Kemendikbud — Jembatan dan berbagai lintas rusak untuk menuju sekolah bukan menjadi hal baru. Hal tersebut tidak dapat dibiarkan, karena orang tua melepas anak-anaknya ke sekolah dengan harapan bisa meraih masa depan yang cemerlang. Untuk itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengajak seluruh kepala sekolah, guru, orang tua, dan masyarakat lainnnya untuk melaporkan lintasan menuju sekolah yang rusak ke laman “sahabat.kemdikbud.go.id.

“Kita mengundang lewat laman ini,

untuk melaporkan lintasan menuju sekolah yang rusak. Kemendikbud berasama Kementerian PU dan Perumahan Rakyat akan mengerjakan ini. Lintasan rusak harus dibangun kembali,” demikian disampaikan Mendikbud Anies Baswedan saat jumpa pers di kantor Kemendikbud, Jumat (13/03/2015).

Di laman ini masyarakat dapat melaporkan berbagai lintasan yang rusak, dan menjelaskannya dalam formulir yang tersedia. Pihak pelapor menyebutkan lokasi, mengirimkan foto, dan mendeskripsikan kejadiannya. Setelah mendapatkan laporan tersebut, Kemendikbud bersama Kementerian PU dan Perumahan Rakyat akan melakukan verifikasi untuk memperbaiki.

Mendikbud berharap, dengan terselesaikannya lintasan menuju sekolah yang rusak, para orang tua dapat melepaskan anak-anaknya berangkat ke sekolah dengan rasa nyaman dan tenang. “Anak-anak dapat melewati lintasan-lintasan yang aman. Anak ke sekolah untuk meraih masa depan yang gemilang, dan bukan berangkat ke sekolah untuk melewati lintasan dengan resiko-resiko yang membahayakan,” ujar Mendikbud.

Tanggung jawab ini, kata Mendikbud, menjadi tanggung jawab bersama pemerintah dan masyarakat. Pemerintah terjun langsung untuk memperbaiki lintasan-lintasan menuju sekolah yang rusak, dan berharap adanya bantuan seluruh masyarakat untuk melaporkan lintasan rusak tersebut. “Dengan begitu negara bisa memastikan lintasan itu aman bagi anak-anak kita untuk berangkat ke sekolah,” pungkas Mendikbud. (Seno Hartono) sumber :http://www.kemdikbud.go.id/kemdikbud/berita/3922