Baru 51 Persen Guru Penuhi Kualifikasi Pendidikan

253

(FKIPnews) Kriteria pendidikan guru belum memenuhi kualifikasi pendidikan. Hingga kini tercatat, baru 51 persen guru yang memenuhi persyaratan minimal. Demikian diungkapkan Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lampung (Unila) Bujang Rahman, Sabtu (27/4).

Menurut data, katanya, dari 3 juta guru di Indonesia, hanya 51 persen yang sudah mengantongi lisensi Strata Satu (S-1). “Kualifikasi pendidikan guru seharusnya minimal sarjana. Artinya, banyak guru yang belum memenuhi kualifikasi pendidikan,” ujarnya.

Dari sisi kepangkatan, hanya 44 persen guru yang sudah golongan IV/a, sisanya berarti sebanyak 56 persen di bawah itu. Kondisi ini menunjukkan 56 persen guru belum pernah membuat karya ilmiah. Padahal,  guru seharusnya bisa menghasilkan karya-karya ilmiah yang dihasilkan melalui penelitian.

Bujang membeberkan, beberapa waktu lalu sekolah-sekolah disibukkan dengan kabar pembaruan dari kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) menjadi kurikulum 2013. “Ibarat bayi, belum lahir sudah beli ayunan. Peraturannya saja belum ada, tetapi sekolah sudah sibuk,” pungkasnya.

Jika jadi diimplementasikan, lanjut dia, sederet masalah pendidikan yang sudah ada selama ini harus dibereskan terlebih dulu agar pencapaian target kurikulum bisa optimal. Menurutnya, konsep kurikulum sangat bagus, akan tetapi perubahannya harus disesuaikan dengan kemampuan guru mengajar.

Kondisi SDM guru yang belum mumpuni ditambah dengan infrastruktur yang tidak memadai membuat tujuan kurikulum 2013 yaitu menciptakan insan Indonesia yang produktif, kreatif, dan inovatif melalui penguatan sikap, keterampilan, dan pengetahuan secara terintegrasi sulit tercapai.

Bujang juga menambahkan, menurut data sebanyak 50 ribu ruang kelas di Indonesia rusak. “Seandainya kurikulum baru benar-benar dilaksanakan, bagaimana siswa bisa belajar nyaman dengan infrastruktur yang tidak memadai,” tandasnya.

Beberapa tujuan yang ingin dicapai melalui kurikulum 2013 adalah siswa yang produktif, kreatif, dan inovatif. Oleh sebab itu, sekolah harus membiasakan diri untuk memberikan ruang gerak yang luas agar siswa bisa mengembangkan diri dan berinovasi. Selama ini menurutnya sekolah terbiasa melakukan evaluasi dengan objektif tes, seperti ujian pilihan ganda. (src:unila.ac.id)