UN Lagi ?

Oleh Prof. Dr. Cucu Sutarsyah, M.Pd Dosen FKIP Universitas Lampung

Judul artikel ini terkesan melankolis-pesimis dan bisa juga mengandung bermacam-macam pengertian dan pendapat, bisa positif dan bisa negatif.Sama halnya dengan ungkapan “Hujan lagi?“. Hujan lagi biasanya dikaitkan dengan “Banjir lagi“. Hujan biasanya mengandung makna positif, berkah, subur, banyak air. Tetapi kata banjir pasti mengandung makna negatif, yaitu bencana. Penulis tidak bermaksud mangatakan bahwa UN membawa bencana, tetapi ingin menguariakan efek samping dari UN, sebagai mana obat yang kita minum. Apapun alasannya dalam setiap bentuk kegiatan pendidikan perlu adanya evaluasi, atau yang disebut ujian.

Salah satu fungsi mengapa Ujian Nasional dilakukan adalah untuk memantau peningkatan dan pemerataan mutu pendidikan (BSNP, 2012). Undang undang Sisdiknas No 20 tahun 2003 pasal 58 ayat (2) mengamanatkan bahwa pemerintah melaksanakan UN. Undang-undang ini diimplentasikan melalui Peraturan BSNP No 0011/P/BSNP/XII/2011, tanggal 19 Desember 2011. Dengan UN pemerintah dapat melakukan standarisasi dan pemetaan; daerah mana atau sekolah mana yang masih perlu perhatian, perlu peningkatan dan perlakuan/bantuan. Atas dasar itu pemerintah akan menyelenggarakan UN di akhir masa belajar, yaitu mulai tanggal 16 April 2012 untuk SMA/MA/SMK dan mulai tanggal 23 April untuk SMP/MTs/SMPLB. Selain itu hasil ujian digunakan untuk melakukan “feedback“, melihat kemabali apakah kegiatan belajar berhasil, apakah tujuan yang telah ditetetapkan tecapai, seberapa besar ketercapaiannya; kendala apa yang terjadi; hal apa yang belumtercapai. Analisis hasil ujian tetentunya digunakan sebagai dasar pertimbangan untuk menentukan kebijakan, seperti, perbaikan kedepan, misalnya kurikulum, sarana belajar, tenaga pengajar, bahkan paradigama pembelajaran. Dengan demikian ujian atau UN memiliki tujuan yang sangat mulia dan strategis. Para pendidik dan orang tua murid seharusnya menyadari bahwa ujian menghasilkan hanya dua kemungkinan, yaitu lulus atau tidak lulus. Sehingga apabila seseorang tidak lulus kenyataan ini merupakan hal yang wajar; artinya dalam dirinya masih ada kekurangan dan ketidak-mampuan atau belum menguasaikompetensi tertentu. Jadi dia harus mengulang lagi dan memperbaiki lagi agar ke depan dia menjadi orang yang berhasil dan siap. Apabila seseorang yang tidak mampu, lalu dipaksakan lulus, maka tindakan ini sama saja menjerumuskan anak didik, suatu tindakan yang tidak bertanggung jawab. Anak akan mengalami kesulitan menghadapi masa depannya, baik itu pendidikan yang lebih tinggi atau dalam mendapat pekerjaan, dan yang lebih parah lagi dia tidak menyadari kelemahannya. Bagi kepala sekolah atau guru, ketidak lulusan ini memang bisa menjadi aib karena kegagalannya dalam menyelenggarakan proses belajar, apa lagi mereka mendapat tekanan dan ancaman dari atas.Tetapi bagi guru yang memiliki idealisme dan bertanggung jawab, hal ini merupakan hal yang wajar untuk sarana instropeksi, walupun pada dasarnya kegagalan bukan semata karena faktor guru, tatapi banyak faktor yang terlibat yang kebanyakan dari faktor siswa itu sendiri.Sehingga guru atau kepala sekolah tidak perlu membantu anak didik dangan cara yang tidak wajar, semisal membentuk tim “sukses“, membagikan kunci jawaban kepada anak didik, semata mata untuk kepentingan sesaat, demi gengsi. Sekilas nampak bahwa tindakan ini baik, membantu, menolong anak supaya lulus; Ketika lulus, anak senang, orang tua senang semua senang; dan membuat orang senang itu baik. Tetapi banyak orang tidak menyadari atau mungkin sadar tetapi lebih mementingkan hal lain; betapa tindakan itu menimbulkan dampak negatifyang tidak kecil bagi kelangsungan pendidikan kita.

Dampak yang terburukdari UN ialah ketika kepala sekolah atau guru membantu dengan memberikan kunci jawaban terhadap siswanya.Tindakan ini akan merusak hakekat belajar yang sesungguhnya dan merusak moral. Ketikahalini menjadi hal yang rutin dan terjadi di setiap sekolah, maka praktek pembelajaran hanya sebatas formalitas;siswa yang motivasinya hanya mencari status (izajah)masuk kelas bukan bernia tuntukbelajar, bahkan mereka tidak tahu apa tujuan belajarnya; setiap hari melakukan aktivitas rutin, datang dan pulang tepat waktu, ngisiabsen, dsb. Mengapa demikain? karena mereka tahu pada akhirnya mereka akan lulus juga dan dapat izajah karena ada “dewa“ penolong (kunci jawaban). Ketika hal ini terjadi secara konsisten, maka peran guru tidak banyak dan cendrung tidak diperdulikan, sia-sialah usaha pemerintah untuk meningkatkan kualitas dankinerja guru dengan menghabiskan banyak biaya. Ada suatu kasus di suatu sekolah (tidak disebutkan sekolah mana). Untuk menghadapi ujian, anak -anak mendapat tambahan belajar. Namun beberapa anak malas mengikuti kegiatan ini. Setelah diselidiki alasannya ialah bahwa meraka tidak perlu repot, karena toh nanti ada “tim sukses“. Kasus ini bukan mustahil ada di sekolah-sekolah lain. Jadi tim sukses bukan hal yang rahasia, anak pun tahu. Keadaan ini diperparah ketika pejabat dinas Pendidikan tidak memiliki jiwa pendidik dan idealisme kependidikan. Hal ini termasuk korban otonomi, dimana kepala daerah berkuasa penuh mengangkat pejabat yang sering tidak sesuai dengan kemampuan dan latar belakang profesinya. Contoh kasus adalah seorang pejabat dinas pendidikan berbicara di depan publik, guru-guru dan kepala sekolah. Dia mengatakan bahwa kita harus menolong siswa supaya lulus UN semua dengan cara apapun, karena kalau banyak siswa yang tidak lulus akan menjadi beban kita semua, beban kepala sekolah, guru dan orang tua. Lalu dia mencontohkan kalau ini terjadi pada sekolah swasta dan banyak siswa yang tidak lulus, maka sekolah tersebut akan bangkrut, tidak ada yang mau daftar di sekolaha tersebut. Kalau pernyataan ini disampaikan oleh orang awam, maka hal itu nampak wajar; tetapi sebagai pejabat pendidikan, pernyataan itu sangat ”konyol”. Seharusnya dia mengatakan bahwa UN harus berjalan bersih, tidak ada kecurangan, tidak ada kunci jawaban yang beredar, sehingga kalau ini berlangsung terus, maka siswa akan serius belajar dan para guru akan bersemangatmeningkatkan kinerjanya menghasilkan manusia cerdas dan beradab. Sekolah-sekolah swasta (dan juga sekolah-sekolah negeri) akan bersaing dengan sehat untuk meningkatkan kulitas proses pembelajarandan pelayanan. Sekolah yang baik akan menghasilkan lulusan yang baik; bukan malah sebaliknya, sekolah dengan kualitas rendah malah justru menghasilkan lulusan dengan tingkat kelulusan 100%, salah satu bentuk pembohongan publik. Dampak negatif yang lain dari praktek tim sukses in ialah merosotnya moral anak didik. Peran guru jelas harus memberikan contoh yang baik dan terpuji, ing ngarso sung tulodo. Penanaman karakter yang positifdapat dilakukan dengan memberikan contoh perilaku yang terpuji dan berkarakter di depan anak didik. Ketika praktik ini dilakukan, para siswa dipertontonkan suatu bentuk pelanggaran moral dan etika secara pulgar. Kepala sekolah atau guru secara tidak sadar memberi contoh atau malah mengajarkan pelanggaran aturan. Semua siswa tahu bahwa hal ini dilarang dan melanggar aturan. Lama kelamaan hal ini masuk ke dalam bawah sadar siswa bahwa pelanggaran, manipulasi, kebohongan itu hal yang biasa, bahkan dilakukan oleh pejabat. Sudah bisa dipastikan lulusan atauproduk pendidikan semacam ini setelah dewasa kelak akan menjadi pejabat yang korup. Akhirnyasekolah sebagai satu-satunya benteng pertahan moral anak bangsa akan runtuh. Maka benar kata orang bijak bahwa koruptor di negeri ini sulit diberantas karena bibit korupsi telah ditanam sejak dini di sekolah. Ironis sekali. Sebagai penutup, seyogianya pemerintah sebagai pihak pembuat kebijakan memikirkan efek negatif dari pelaksanaan UN selama ini. Sampai sekarangpun orang belum percaya 100% terhadap hasil UN. Masyarakat sudah lelah, resah dan gelisah setiap tahun. Adakah alternatif lain sehingga orang tidak resah dengan adanya UN. Betapa banyak tenaga, pikiran dan dana telah dihabiskan untuk setiap pelaksanaan UN yang rata-rata 10,1 miliar rupiah untuk setiap provinsi.

2 thoughts on “UN Lagi ?

  1. Pendidikan di Indonesia masih seperti buih, besar volumenya amat ringan isinya. Kalo mo jujur passing grade 3,0 saja masih banyak siswa yang tidak lulus. Jadi UN dengan passing grade 3,0 seluruh Indonesia masih pantas untuk pendidikan di Indonesia dan gak perlu cari muka di dunia Internasional bahwa pendidikan di Indonesia sudah maju.

    1. Guru yang sebenar-benarnya guru, atau guru yang profesional selalu ingin mengetahui kemampuan anak didiknya. Oleh karena itu dia akan menentang praktek kotor tak bermoral, spt memberi kunci jawaban kepada anak didiknya. Samapai sekarang orang masih belyum percaya akan hasil UN. Bahkan ada guru yang mengatakan bahwa US atau UN cendrung mengarah paa praktek pembohongan. Pendidikan bukan mencerdaskan bangsa tapi menjeremuskan bangsa, menjadi generasi tak bermoral, berjiwa korup

Tinggalkan Balasan